Masih sama saja, kemarin juga begini

1 comment 686 views

Hari ini masih akan seperti kemarin. Kita masih berada dalam ketidakmenentuan, yang mungkin saja lebih baik dibanding keadaan yang sangat menentu dalam masa otoritarianisme di dekade lampau.
Sekarang, mata kita lebih terbuka untuk memandang segala chaos yang sebelumnya sangat disembunyikan. Tangan kita juga lebih berkemampuan meletupkan chaos atau turut serta di dalamnya. Kita bisa bersuara dengan bebas, berteriak-teriak di jalanan dan menghujat—dan juga tak aneh jika orang-orang yang mendengarnya bersikap tak acuh menanggapinya karena sudah makin terbiasa.
Dalam masa kacau dan menyengsarakan bagi sebagian besar orang, upaya untuk mempertahankan kewarasan akal kita sungguh jadi sangat berat.


Kita dilindas kekuatan yang sungguh ghaib. Tangan-tangan yang tak nampak, namun perannya sangat nyata dalam hidup dan penghidupan kita. Ini lebih dari sekedar kapitalisme global yang bertanggungjawab atas naiknya harga minyak goreng dan BBM, atau kelangkaan susu buat anak-anak kita, atau makin sulitnya mendapatkan rupiah—sementara melepaskan tiap rupiahnya jadi amat tak tertahankan.
Kita boleh saja berang atas segala kekacauan yang sangat tak nyaman ini. Perasaan ini membuat kita ingin mencaci setiap aparat pemerintahan yang kita temui, membuat barikade di jalanan untuk menghalangai semua pengendara mobil yang tak pernah memberi kontribusi apa-apa bagi para pejalan kaki, melemparkan batu pada para pengendara motor yang ugal-ugalan dan mau cepatnya sendiri, atau bahkan merakit bom untuk membunuh sebanyak mungkin orang untuk memuaskan rasa frustasi kita kepada dunia.
Namun, sungguh beruntung kita semua tak sesembrono itu. Masih ada kekuatan yang lebih untuk membuat kita berpikir jernih.
Bagi kaum sepuh seperti Bapak saya, kemampuan untuk tetap mempertahankan kewarasan akal dalam masa seperti ini sungguh merupakan keberuntungan yang luar biasa. Waras dalam artian tidak ikut-ikut menyumbangkan andil bagi kekacauan, waras dalam artian tetap berupaya jujur dalam meraih tiap rupiah—demi kehalalan tiap butir nasi yang masuk ke lambung angggota keluarga kita, waras dalam artian mampu waspada dan berikap adil dalam merespon tiap kejadian.
Karena semangatnya adalah sikap hidup yang adil.
Kebencian terhadap apa saja—kepada yang maksiat dan haram sekalipun, tak memberikan hak kepada manusia untuk bersikap tidak adil.
Melampiaskan kebencian dengan cara yang buruk hanya akan membuka ketidakmatangan cara berpikir dan sikap kita.

author
  1. author

    Tuan WordPress3574 hari ago

    Hi, this is a comment.
    To delete a comment, just log in, and view the posts’ comments, there you will have the option to edit or delete them.

    Reply

Leave a reply "Masih sama saja, kemarin juga begini"