Memonetisasi Waktu dengan Hutang?

1 comment 986 views

Kalimat “time is money” merupakan dalil yg sifatnya kondisional. Seperti beberapa hukum ekonomi yg bersifat ceteris paribus, demikian halnya dalil itu berlaku dalam kemikroan kehidupan berekonomi yg kita jalani. “Time is money” merupakan asumsi penyederhanaan untuk mengukur waktu sebagai tangible asset.

Apakah waktu selalu berarti uang dalam hidup Anda? Kalau jawabannya iya, Anda selayaknya kecewa dengan sebegitu sempitnya dunia. Karena pada kenyataannya, bisa jadi “time is more precious than money” atau bahkan “time is worthless than money”. Kedua tak selalu sebanding. Hanya dalam momen-momen tertentu keduanya bisa dibandingkan dan saling mengukur.

Dalam suatu masa dimana ada banyak job, order, tugas, atau semacam itu mengantre di belakang kita, itulah saat dimana waktu sangat berharga. Kita bahkan jadi sangat menghargai waktu (termasuk waktu luang) dan rela “membeli” waktu orang lain untuk mendelegasikan beberapa pekerjaan kita.

Di saat semacam itu, bahkan waktu yg kita punya bisa dimonetisasi. Tak percaya? Coba saja datang ke bank, dan ajukan aplikasi kartu kredit, atau ajukan pembelian barang yg Anda inginkan secara kredit ;)
Kartu kredit dan rekening cicilan adalah sarana modern untuk menggadaikan masa kerja yg akan kita lewati. Dalam cara pandang yg lebih primitif, hutang adalah cara kita menggadaikan masa depan. Speculative monetization is the nature of loan.

author
  1. Fasilitas dan Bunga Kartu Kredit BNI @ Investasi2545 hari ago

    [...] satu pemain utama kartu kredit saat ini adalah Bank BNI, dengan produk berlabel Visa dan Mastercard. Hingga akhir Januari 2011, [...]

    Reply

Leave a reply "Memonetisasi Waktu dengan Hutang?"