Konsistensi dan Kesabaran: Kisah Sukses Good News from Indonesia

Para pengguna media sosial, khususnya Twitter, tentu tidak asing dengan Good News from Indonesia. Belasan berita baik dari pelosok negeri dikabarkan setiap hari. Pengelolanya arek Suroboyo, yakni Akhyari Hananto.

DINDA LISNA AMILIA

---

RAUT wajah lelah terlihat jelas pada wajah Akhyari Hananto. Meski waktu menunjukkan pukul 21.00, dia masih punya banyak destinasi dan urusan yang harus diselesaikan.

Nada dering klasik ala telepon rumah yang berbunyi bersamaan dari dua handphone-nya menandakan Ari -panggilan akrab Akhyari Hananto- adalah orang yang sibuk.

Itu masuk akal. Sebab, Ari kini mulai kebanjiran undangan dari Sabang sampai Merauke. Sering juga dari luar negeri. Dia diundang dalam kapasitasnya sebagai founder dan pengelola tunggal akun Twitter Good News from Indonesia atau yang biasa dikenal dengan @GNFI.

gnfi

''Saya juga tidak menyangka antusiasme masyarakat seperti ini,'' papar suami Marlena tersebut.

Apa yang dituangkannya dalam GNFI, menurut dia, adalah bentuk kecintaannya pada Indonesia. Hal tersebut bermula dari pengalamannya selama bekerja di Non-Governmental Organization (NGO) dari Inggris. Di situ, Ari sering mendapat tugas keliling dari satu negara ke negara lain.

Saat itulah Ari mulai menyadari, di mata negara lain, Indonesia tak ubahnya sebagai negara yang penuh konflik dan bencana alam.

Pernah suatu ketika dia ditugaskan ke Kamboja. Ternyata ada salah satu TV nasional dari Indonesia yang mendapat jatah tayang. Stasiun televisi tersebut khusus menyiarkan berita yang sebagian besar adalah berita buruk seputar kehidupan di Indonesia.

Itulah yang membuat Ari dijejali banyak pertanyaan dari masyarakat Kamboja mengenai kondisi Indonesia. ''Ada lagi yang paling terpatri, saat saya ditugaskan ke Salomon Island, dengan terang-terangan warga sana mengatakan kepada saya begini, 'Your country have too much fighting','' imbuh alumnus Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Veteran, Jakarta, tersebut.

Semua pengalaman tidak mengenakkan itu mencetuskan keinginan untuk menunjukkan Indonesia dari sisi berita bagus saja. Apalagi, dalam perjalanan tugasnya, Ari juga menemukan banyak prestasi dan hal keren yang diukir anak negeri.

Misalnya, soal kredit mikro salah satu BUMN, yakni Bank BRI yang menjadi kredit mikro terbaik di dunia. Bahkan, BRI dikunjungi secara langsung oleh peraih Nobel Perdamaian Muhammad Yunus pada 2008. Pendiri Grammen Bank dari Bangladesh itu datang untuk belajar secara langsung ke BRI.

Akhirnya, pada 2007 Ari membuat blog. Dalam sehari, dia selalu menulis hal-hal yang indah mengenai Indonesia. Meski dalam setahun pertama pengunjung blognya tidak pernah lebih dari lima orang, dia tetap konsisten.

Artikel yang dibuatnya berasal dari ide-ide sederhana. Misalnya, Ari browsing mengenai gunung berapi yang punya pemandangan blue fire (penampakan api berwarna biru yang hanya bisa dilihat saat malam). Siapa sangka di dunia hanya terdapat dua penampakan blue fire. Yakni, di negara Islandia yang terletak di Eropa Utara dan satu lagi di puncak Gunung Ijen, Banyuwangi.

''Berita-berita semacam ini ringan dan bisa menggiring optimisme, ini lho negara saya yang kaya raya itu,'' jelas ayah dua putri dan satu putra tersebut.

Konsistensi Ari dalam meng-update berita-berita bagus dalam negeri itu semakin lama berbuah manis. Pada awal 2009, ada salah seorang pembaca blognya yang tertarik membuatkan website yang dikelola secara profesional.

Dia orang Madiun, alumnus ITS, bernama Ian Ahmad Badawi yang bekerja di Maryland, USA. Menurut Ari, Ian dan dirinya punya visi yang sama dalam hal memublikasikan kabar baik dari Indonesia. Progres berupa jumlah kunjungan website mereka semakin bagus, bisa sampai 6.000 pengunjung per hari.

Akhir 2009, salah satu media sosial bernama Twitter booming di Indonesia. Hal itu berdampak pada menurunnya jumlah kunjungan website GNFI. Tidak pikir panjang, Ari langsung membuat akun Twitter GNFI yang diberi nama sama dengan di website.

Setiap hari yang ditulis dalam website juga di-update lewat Twitter. Dalam seminggu, GNFI tak kunjung punya follower.

Seiring dengan berjalannya waktu, GNFI di-follow orang-orang terdekat, relasi Ari saja. Hingga sebulan setelahnya, salah seorang aktivis muda ibu kota Alanda Kariza dan presenter ibu kota Pandji Pragiwaksono mem-follow GNFI.

Bahkan, mereka sering me-retweet (mengopi status) dan ikut mempromosikan akun GNFI kepada followers mereka. Itulah yang sedikit banyak membuat GNFI mempunyai sekitar 25.000 follower pada 2010.

Dari yang semula hanya mengeluarkan dua berita, sejak awal 2012 Ari bisa mengeluarkan 10-12 berita lewat Twitter karena jumlah follower semakin banyak. Tidak hanya di-follow orang Indonesia, followers GNFI juga berasal dari mancanegara.

Uniknya, beberapa followers dari negara lain bahkan menawarkan untuk menjadi kontributor dari lokasi mereka. ''Saya langsung mengiyakan tawaran mereka. Saya semakin merasa usaha saya dihargai, senang sekali,'' imbuh laki-laki yang lahir pada 28 Februari 1977 tersebut.

GNFI kini memiliki 37 kontributor yang tinggal di luar negeri. Di antaranya, dari Maryland, Tokyo, Seoul, Singapura, Bangkok, Maroko, Frankfurt, London, dan Kairo. Kebanyakan para kontributor adalah mahasiswa dan orang Indonesia yang bekerja di luar negeri.

Lalu, apa yang mereka tulis mengenai Indonesia? Menurut Ari, para kontributor tetap menulis berita baik yang berhubungan dengan Indonesia. Misalnya, di Riga, ibu kota negara Latvia, terdapat museum yang menyimpan secara khusus barang-barang tradisional Indonesia. Di antaranya, keris dan wayang.

Selain itu, siapa yang belum tahu bahwa di St Petersburg, Rusia, terdapat Masjid Biru Soekarno. Jalan Surabaya di Arab Saudi dan banyak hal yang unik mengenai Indonesia di luar negeri lain.

Tak heran, GNFI berkembang dengan cepat. Pada akhir 2011 saja, GNFI mempunyai 80.000 followers. Menurut Ari, saban hari rata-rata terjadi peningkatan sebanyak 400 follower.

Masyarakat juga menunjukkan kecenderungan menyukai berita seputar prestasi mahasiswa, kampus, dan pariwisata. ''Kalau update soal itu, yang me-retweet bisa sampai ratusan. Yang sepi peminat itu berita ekonomi, yang retweet paling banter cuma 30 orang, hehe,'' imbuh pengagum salah seorang jenderal Perang Dunia II George Patton tersebut.

Puncak peningkatan follower GNFI terjadi pada Juni lalu, saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membikin akun Twitter. Meski di-follow 2,9 miliar akun, SBY hanya mem-follow 87 akun yang di antaranya adalah GNFI. GFNI menjadi akun ke-28 yang di-follow SBY.

Bahkan, SBY juga mengirimkan mention (pesan) untuk GNFI. Intinya, dia menyukai GNFI karena berita baik yang dikabarkan. ''Karena di-mention SBY, follower GNFI langsung naik berlipat-lipat,'' ucap anak kelima di antara enam bersaudara pasangan Hadi Mulyono dan Indiati Siti Buntari tersebut.

Semakin dikenal, Ari harus menanggung konsekuensi. Dia sering diundang untuk berbagi mengenai GNFI. Misalnya, dalam forum Generation 21 di Washington DC dan Kongres Diaspora Indonesia di Los Angeles.

Istimewanya, berkat GNFI, Ari dinobatkan sebagai The Most Influential Netizen oleh salah satu majalah, The Marketers.

Semua penghargaan itu, lanjut Ari, tidak membuatnya tinggi hati. Ari punya alasan untuk itu. Karena kewajibannya meng-update berita tiap hari, dia jadi tahu banyak hal. Termasuk mengenai tokoh favoritnya, B.J. Habibie.

Menurut dia, Habibie mempunyai semua alasan untuk menjadi sombong. Ari mengetahui Habibie sebagai orang paling pintar se-Asia.

Habibie memiliki 46 hak paten di teknologi kedirgantaraan di dunia. Di usianya yang senja, Habibie kini juga menjadi pelopor berjalannya proyek Regio 80 yang terbengkalai sejak krisis moneter melanda Indonesia.

''Beliau adalah orang terpintar dan rendah hati. Semangatnya untuk mentransformasikan ilmunya memberi saya inspirasi hingga sekarang,'' tegasnya. (c7/ib/jpnn)

author

Leave a reply "Konsistensi dan Kesabaran: Kisah Sukses Good News from Indonesia"